Pages

Minggu, 14 Juli 2013

Dalam Keheningan

Dikursi itu, kita saling terdiam satu sama lain, tak ada yang berani memulai bersuara. Ku tundukkan kepalaku, tak tahu ingin berbicara apa. Ku tenggelamkan wajahku pada sebuah boneka yang sedari tadi ku peluk erat. Diapun begitu, kebingungan entah apa yang ingin dia akan ucapkan, Sesekali melihat kearahku. Sunyi, hanya suara detak jantung kami yang terdengar, sesekali suara helaan nafas disela-selanya.

Terasa tangannya mulai merengkuhku, mungkin egonya mulai mencair, dan egoku pun begitu. Tetap diam, dan sekarang detak jantungnya semakin terdengar jelas tepat ditelingaku. Ku kencangkan pelukan pada bonekaku, lalu kutenggelamkan lagi wajahku. Cengeng mungkin, tapi air ini sedikit demi sedikit keluar dari tempat penampungannya. Telapak kaki dan tanganku mulai menghangat, setelah sekian lama membeku. Entah berapa lama itu terjadi, aku hanya memejamkan mata. Sebuah kalimat yang ingin ku ucapkan, tapi masih saja terperangkap dalam lidah yang terkelu.

“Maaf?” ucapan darinya mulai memecahkan kekakuan itu. Aku hanya menggelengkan kepala, tak ada sedikitpun keinginan makan walaupun perut bersuara. Hanya ingin tetap tenang dalam dekapannya, seakan tak ingin melepaskan keadaan seperti itu.

Keheningan seperti itu, terkadang mungkin keadaan itu sesekali ku inginkan. Diam, hanya gerak tubuh yang berbicara. Tatapan mata yang sesekali saling beradu, tangan yang saling menggandeng, pelukan hangat hingga detak jantung semakin jelas terdengar. Apakah ini sayang, atau mungkin hanya sekedar rasa tak ingin menyakiti. Aku hanya ingin, yang ditunjukkan benar-benar tulus, tanpa ada kebohongan. Akhirnya di kursi itu, saat itu juga, ego yang awalnya saling menguat satu sama lain, dapat mencair, berusaha mengerti, tanpa melalui berjuta-juta kata yang terucap.



#hanya pembebasan imajinasi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.