Dikursi itu, kita saling terdiam
satu sama lain, tak ada yang berani memulai bersuara. Ku tundukkan kepalaku,
tak tahu ingin berbicara apa. Ku tenggelamkan wajahku pada sebuah boneka yang
sedari tadi ku peluk erat. Diapun begitu, kebingungan entah apa yang ingin dia akan
ucapkan, Sesekali melihat kearahku. Sunyi, hanya suara detak jantung kami yang
terdengar, sesekali suara helaan nafas disela-selanya.
Terasa tangannya mulai
merengkuhku, mungkin egonya mulai mencair, dan egoku pun begitu. Tetap diam,
dan sekarang detak jantungnya semakin terdengar jelas tepat ditelingaku. Ku
kencangkan pelukan pada bonekaku, lalu kutenggelamkan lagi wajahku. Cengeng
mungkin, tapi air ini sedikit demi sedikit keluar dari tempat penampungannya. Telapak
kaki dan tanganku mulai menghangat, setelah sekian lama membeku. Entah berapa
lama itu terjadi, aku hanya memejamkan mata. Sebuah kalimat yang ingin ku
ucapkan, tapi masih saja terperangkap dalam lidah yang terkelu.
Keheningan seperti itu, terkadang
mungkin keadaan itu sesekali ku inginkan. Diam, hanya gerak tubuh yang
berbicara. Tatapan mata yang sesekali saling beradu, tangan yang saling
menggandeng, pelukan hangat hingga detak jantung semakin jelas terdengar. Apakah ini sayang, atau mungkin hanya sekedar rasa tak ingin menyakiti. Aku
hanya ingin, yang ditunjukkan benar-benar tulus, tanpa ada kebohongan. Akhirnya
di kursi itu, saat itu juga, ego yang awalnya saling menguat satu sama lain,
dapat mencair, berusaha mengerti, tanpa melalui berjuta-juta kata yang terucap.
#hanya pembebasan imajinasi
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar