Dikursi itu, kita saling terdiam
satu sama lain, tak ada yang berani memulai bersuara. Ku tundukkan kepalaku,
tak tahu ingin berbicara apa. Ku tenggelamkan wajahku pada sebuah boneka yang
sedari tadi ku peluk erat. Diapun begitu, kebingungan entah apa yang ingin dia akan
ucapkan, Sesekali melihat kearahku. Sunyi, hanya suara detak jantung kami yang
terdengar, sesekali suara helaan nafas disela-selanya.
Terasa tangannya mulai
merengkuhku, mungkin egonya mulai mencair, dan egoku pun begitu. Tetap diam,
dan sekarang detak jantungnya semakin terdengar jelas tepat ditelingaku. Ku
kencangkan pelukan pada bonekaku, lalu kutenggelamkan lagi wajahku. Cengeng
mungkin, tapi air ini sedikit demi sedikit keluar dari tempat penampungannya. Telapak
kaki dan tanganku mulai menghangat, setelah sekian lama membeku. Entah berapa
lama itu terjadi, aku hanya memejamkan mata. Sebuah kalimat yang ingin ku
ucapkan, tapi masih saja terperangkap dalam lidah yang terkelu.