“ Disini gelap, pengap, sesak rasanya rongga dadaku. Bisakah
aku keluar dari sini?” tanyaku pada Tuan yang berada persis di sampingku.
“ Tuan, kita dimana? Adakah secercah cahaya untuk kita
disini?” tanyaku kepadanya untuk kesekian kali.
“ Tuan! Bicaralah, Beri aku jawaban, tidakkah engkau juga
bingung berada di tempat seperti ini?”
Tuan tak juga menjawab, Beliau hanya diam dan tetap tenag
berada di sampingku.
Akhirnya aku kesal dan menjauh.
“Asing rasanya, tempat apa ini?” pertanyaan yang terus
berlari di kepalaku.
Mataku menerawang keadaan sekitar, tak jauh memang untuk
melihat, namun aku masih berharap ada secercah cahaya yang dapat menunjukkanku
jalan keluar.
Setelah sekian lama, aku menyerah.
Sepi, semakin menakutkkan, yang terdengar hanya hembusan
nafas dan detak jantungku.
Tak kuasa aku memandang sekitar, mulailah kepala ini ku
tidurkan di kedua lututku yang mulai gemetaran.
Tak terasa, air mata telah membasahi lututku, hangat, namun
bertolakbelakang dengan dinginnya tempat ini. Semakin lama tangisku menjadi.
Lelah rasanya tubuh ini, mungkin aku sudah terlalu lama
menangis.
“Hei !!! dimana Tuan yang bersamaku tadi?”
Mulai ku terawang lagi daerah di sekitarku. Agak jauh,
mataku menemukan Tuan tadi.
Kutatap terus kearahnya, tak lama kemudian kusadari sesuatu
yang aneh.
Hei! Tuan itu seperti bercahaya jika dibandingkan sekitarnya
yang tampak gelap. Tetap terus ku mengamatinya.
“ Tuan, siapa engkau?” tanyaku dalam hati.
Sontak akupun terkejut. Tuan itu tampak tersenyum padaku.
Dengan cepat Aku berjalan mendekat padaNya. Cahayanya
memudahkanku untuk menghampirinya.
Aku duduk di sampingnya, cukup hangat dan nyaman.
Mengapa aku tadi menjauh darinya? Tuan ini memberi ku
cahaya, bahkan aku mulai bisa tenang.
Entahlah berapa pertanyaan muncul dari otakku sampai aku
tertidur melihat senyuman dan merasakan kehangatanNya.
Siapa engkau Tuan? Dapatkah engkau membawaku pergi dari
tempat ini? sudahlah Tuan tak akan langsung menjawab, Beliau hanya tersenyum
hangat kepadaku. Terimakasih Tuan. :)
0 komentar:
Posting Komentar